TRENDING

Dikeluarkan dari Grup Whatsapp Internal, Kepemimpinan Abdul Rozak Dipertanyakan

4 menit membaca View : 17
Redaksi
Viral - 09 Agu 2026

Ini Berita Online – Dinamika internal Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bangil kembali menjadi sorotan. Sejumlah persoalan yang disebut telah muncul sejak awal masa kepengurusan kini dinilai semakin memperlihatkan adanya gejolak di internal organisasi.

 

Sorotan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan tata kelola kepengurusan, tetapi juga mencakup dinamika di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga hubungan antar-pengurus di internal PC GP Ansor Bangil.

 

Terbaru, beredar tangkapan layar percakapan grup internal yang memperlihatkan adanya seorang anggota Pengurus Harian (PH) PC GP Ansor Bangil yang keluar atau dikeluarkan dari grup. Dalam percakapan tersebut, anggota yang bersangkutan sebelumnya menyampaikan permohonan maaf sekaligus menyatakan mengundurkan diri dari grup.

 

Dalam pesannya, anggota tersebut juga menyinggung persoalan administrasi organisasi serta pelaksanaan Musran dan pelantikan.

 

“Saya atas nama pribadi maupun organisasi menghaturkan permohonan maaf dan mohon izin undur diri dari grup, semoga ke depan tata kelola dan sistem administrasi organisasi ini semakin baik,” demikian bagian pesan yang beredar dalam tangkapan layar tersebut.

 

Kondisi itu kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan internal kader Ansor. Sejumlah pihak menilai, persoalan tersebut semestinya dapat diselesaikan melalui mekanisme organisasi dan ruang dialog, terlebih GP Ansor merupakan organisasi kader yang memiliki tradisi musyawarah.

 

Salah seorang anggota Ansor di tingkat PC yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Menurutnya, tindakan mengeluarkan anggota dari ruang komunikasi internal tanpa penjelasan yang terbuka berpotensi menimbulkan kesan bahwa organisasi tidak memberikan ruang yang cukup terhadap perbedaan pandangan.

 

“Saya pribadi kecewa. Kalau memang ada persoalan dengan seorang pengurus atau anggota PH, seharusnya diselesaikan melalui mekanisme organisasi, bukan justru dikeluarkan dari grup tanpa alasan yang jelas. Ini organisasi kader, bukan milik pribadi seseorang. Perbedaan pendapat mestinya dijawab dengan dialog, bukan dengan menghilangkan orang dari ruang komunikasi,” ujarnya.

 

Ia juga mempertanyakan arah kepemimpinan PC GP Ansor Bangil di bawah Ketua PC Abdul Rozak. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul sejak awal kepengurusan hingga dinamika di sejumlah PAC seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama.

 

“Sejak awal kepengurusan saja sudah muncul persoalan yang dipertanyakan secara internal. Kemudian ada gejolak di salah satu PAC, sekarang muncul lagi persoalan di internal PC. Kalau persoalan-persoalan seperti ini terus dibiarkan, tentu akan semakin memperlebar jarak antar-kader,” katanya.

 

Menurut sumber tersebut, seorang ketua organisasi tidak cukup hanya mampu menjalankan kegiatan secara administratif, tetapi juga harus mampu menjaga komunikasi, merawat perbedaan pandangan dan memastikan seluruh kader mendapatkan ruang yang sama dalam organisasi.

 

“Ketua itu harus bisa menjadi pengayom. Ketika ada kritik, jangan dianggap sebagai perlawanan. Ketika ada perbedaan pendapat, jangan kemudian orangnya disingkirkan. Kalau setiap kritik dianggap mengganggu kepemimpinan, lalu di mana ruang demokrasi organisasi?” tegasnya.

 

Ia bahkan menilai rangkaian persoalan tersebut telah membuat sebagian kader mempertanyakan kemampuan Abdul Rozak dalam menahkodai PC GP Ansor Bangil.

 

“Bukan soal siapa yang salah atau siapa yang benar. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana ketua mampu mengelola konflik. Kalau sejak awal kepengurusan sudah banyak persoalan, kemudian gejolak muncul di PAC dan sekarang internal PC sendiri berkecamuk, tentu wajar kalau kader mempertanyakan apakah kepemimpinan sekarang benar-benar mampu mengonsolidasikan organisasi,” ungkapnya.

 

Meski demikian, sumber tersebut menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan organisasi. Justru, menurutnya, kritik tersebut merupakan bentuk kepedulian agar GP Ansor Bangil tetap menjadi organisasi kader yang sehat, terbuka dan demokratis.

 

“Kami tidak ingin Ansor pecah. Kami ingin organisasi ini sehat. Kalau ada persoalan, mari duduk bersama. Jangan membangun budaya takut untuk menyampaikan pendapat. Ansor harus menjadi rumah bersama bagi kader, bukan ruang yang hanya nyaman bagi orang-orang yang sependapat dengan pimpinan,” pungkasnya.

 

Rangkaian dinamika tersebut kini menjadi perhatian sebagian kader. Persoalan terkait legalitas awal kepengurusan, gejolak di salah satu PAC, hingga ketegangan di internal PC dinilai perlu segera diselesaikan melalui forum organisasi yang transparan dan sesuai mekanisme yang berlaku.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *