BRIVolution Reignite Mulai Berdampak, Fundamental BRI Makin Solid pada Triwulan II 2026

3 menit membaca View : 7
Redaksi
Ekonomi - 31 Agu 2026

JAKARTA – Transformasi bisnis yang dijalankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mulai menunjukkan kontribusi terhadap kinerja perseroan. Hingga akhir Triwulan II 2026, BRI Group mencatat laba bersih Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan.

 

Kinerja positif tersebut dibarengi perbaikan pada sejumlah indikator efisiensi dan kualitas aset. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun menjadi 2,4 persen dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025.

 

Cost to Income Ratio (CIR) juga membaik menjadi 39,2 persen dari sebelumnya 41,9 persen. Sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen.

 

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan perbaikan tersebut merupakan bagian dari proses transformasi yang sedang dijalankan perseroan.

 

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujar Hery dalam pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

 

Transformasi tersebut dilakukan melalui BRIVolution Reignite. BRI membagi agenda transformasinya ke dalam penguatan funding franchise serta penyegaran bisnis inti dan pembangunan new core sebagai sumber pertumbuhan baru.

 

Pada sektor pendanaan, BRI mendorong pertumbuhan dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. Perseroan juga mengoptimalkan berbagai kanal digital, termasuk BRImo, QRIS dan jaringan BRILink Agen.

 

Di sisi lain, bisnis mikro tetap diperkuat melalui penyempurnaan proses bisnis, peningkatan kapabilitas mantri, dan penguatan manajemen risiko.

 

BRI juga membuka sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting, serta perluasan layanan bullion bank.

 

“Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” kata Hery.

 

Hingga Juni 2026, total aset konsolidasian BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy. Kredit dan pembiayaan menjadi salah satu penggerak utama dengan pertumbuhan 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.

 

DPK tercatat Rp1.581 triliun atau meningkat 6,7 persen yoy. Net interest income naik 9,9 persen menjadi Rp80,5 triliun, sedangkan PPOP tumbuh 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.

 

Dari sisi profitabilitas, ROA BRI berada di kisaran 2,7 persen. ROE meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.

 

Cost of Credit juga mengalami perbaikan dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

 

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ungkap Hery.

 

Meski memperluas sumber pertumbuhan, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai inti bisnis. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen yoy.

 

Porsi kredit UMKM tersebut mencapai 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

 

Selain pembiayaan, BRI memperkuat pemberdayaan melalui Desa BRILiaN, Klasterku Hidupku, LinkUMKM dan Rumah BUMN. Hingga Juni 2026, masing-masing program telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan, lebih dari 44 ribu klaster usaha, sekitar 17,3 juta pelaku UMKM dan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.

 

Untuk KUR, BRI menyalurkan Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur selama Januari-Juni 2026. Secara kumulatif sejak 2015, penyaluran KUR telah mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

 

Hery menilai kombinasi pembiayaan dan pemberdayaan menjadi bagian penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

 

“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *